Dengan pertumbuhan kuantitas advokat yang melonjak pesat dari tahun ke tahun, tantangan industri hukum ke depan bukan lagi sekadar ketersediaan jumlah praktisi, melainkan krisis kepercayaan dan konsistensi mutu.
Hukumonline kembali menggelar Bdi Raffles Jakarta pada Jumat (19/6). Tahun ini, sebanyak 246 kantor hukum mengikuti proses penilaian, meningkat hampir tujuh persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan metodologi yang memadukan data kuantitatif dan validasi kualitatif, jangkauan penilaian Hukumonline pun semakin tajam menyisir sejumlah aspek yang kerap kali luput. Seperti halnya, aspek brand innovation di sektor nonlitigasi; hingga apresiasi individu pada kategori Managing Partner of the Year. Skala kantor hukumnya juga bervariasi, mulai dari kantor hukum raksasa, spesialis, regional, sampai rising star.
Pada perhelatan ini, Siahaan Gea, Attorneys at Law (SGA) pulang membawa tiga pengakuan sekaligus. Mereka dinobatkan sebagai Practice Leaders ELITE ONE (Jajaran Terbaik) pada kategori Commercial Litigation; menjadi winner pada kategori Midsize Litigation Law Firms 2026; serta memperoleh predikat Law Firms on the Spotlight dalam Top 100 Indonesian Law Firms 2026.
Managing Partner SGA, Jesconiah Siahaan mengungkapkan, sejak awal berdiri, mereka telah meletakkan prinsip ‘we are not just another law firm’ sebagai fondasi kantor hukum. Motto mereka ‘partnering for progress, committed to handcraft precise legal solution’ menegaskan bahwa penanganan perkara harus dipahami layaknya sebuah karya yang dibuat sesuai kebutuhan, bukan hasil salin-tempel pengalaman terdahulu. Dengan kata lain, diperlukan satu kecermatan membaca detail normatif, sekaligus implikasi praktisnya bagi kelangsungan usaha klien.
“Kami menjalankan profesi ini dengan penuh passionate di mana kami menjadi mitra bagi klien-klien kami dalam menjahit solusi terbaik atas permasalahan hukum yang dihadapi,” kata Jesconiah.
Kerja Kolektif
Ada satu kata yang berulang kali muncul ketika Jesconiah menjelaskan cara kerja SGA: hands-on. Bagi SGA, maknanya cukup spesifik. Jika pada banyak kantor hukum, junior associate hanya menyentuh sebagian kecil dari satu perkara; di SGA, seluruh lapisan tim justru punya keterlibatan aktif dalam penanganan perkara. Kontribusi aktif ini, kemudian memungkinkan seluruh tim punya pemahaman yang merata terhadap fakta dan dokumen perkara yang sedang ditangani.
“Selanjutnya, dalam tim SGA kami membiasakan untuk saling brainstorming guna menguji argumentasi hukum yang terbaik untuk dijadikan suatu produk yang akan diberikan kepada klien,” Jesconiah menjelaskan.
Dalam praktiknya, pendekatan ini juga punya konsekuensi, terlebih pada kualitas keputusan yang diambil di bawah tekanan. Misalnya, pada sengketa komersial yang jarang berjalan sesuai harapan. Jesconiah memberi gambaran, fakta-fakta baru dapat muncul di tengah persidangan dan hanya tim yang benar-benar menguasai berkas sedari awal, yang mampu bereaksi cepat tanpa perlu menunggu instruksi.
Perihal sengketa komersial, SGA sendiri punya pandangan lain. Perdamaian, dianggap sebagai salah satu jalan keluar untuk menjamin efektivitas waktu dan efisiensi biaya. Dengan memilih pendekatan ini, advokat akan berperan sebagai diplomat ulung yang harus mampu mengombinasikan antara penguasaan fakta dan dasar hukum dengan soft skill negosiasi penyelesaian sengketa yang memuaskan bagi klien.
“Kami selalu tertantang untuk menyelesaikan sengketa litigasi, justru dengan cara nonlitigasi berupa perdamaian di luar pengadilan. Baik itu murni melalui jalur perundingan tanpa didahului langkah hukum, maupun perdamaian yang diperoleh pascainisiasi langkah hukum baik perdata, perdata khusus, maupun pidana,” ujar Jesconiah.
Tak Fokus pada Ukuran
Menjadi pemenang di kategori Midsize Litigation Law Firms 2026 seharusnya jadi alasan untuk berbangga soal skala. Namun, SGA justru mengalihkan sorotan itu ke tempat lain.
“Penghargaaan ini justru kami persembahkan bagi klien-klien kami. Karena merekalah, SGA dapat mengaplikasikan pelayanan jasa hukum secara profesional, sehingga mendapatkan pengakuan secara profesional,” ucap Partner SGA, Johanes Gea.
Kepada Hukumonline, Johanes Gea menyampaikan bahwa kantor hukum berskala menengah biasanya bersaing di dua medan sekaligus, melawan kantor hukum besar yang punya sumber daya melimpah dan melawan kantor hukum butik dengan spesialisasinya. Maka dari itu, untuk bertahan di arena ini, personalisasi layanan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia jadi salah satu senjata yang realistis. Mereka percaya, integritas, keahlian, dan pembelajaran berkelanjutan adalah fondasi utama untuk menjaga kualitas.
“Salah satu contoh implementasinya adalah di SGA, kami rutin mengadakan konsinyasi pemantapan internal guna mengasah skill para lawyer. Mulai dari simulasi cross examination persidangan, sampai dengan mengadakan konsinyasi internal membahas perkembangan peraturan yang berlaku,” Johanes menambahkan.
Adapun transfer pengetahuan tidak berhenti pada pelatihan formal. Biasanya, partners akan menyediakan waktu untuk mentoring associates lewat diskusi perkara dan proses penyempurnaan draf. Associates juga didorong untuk mengasah soft skills seperti public speaking dan kemampuan cross examination dalam persidangan litigasi.
Di luar ruang kerja, SGA menjaga ritme kebersamaan mereka lewat sejumlah kegiatan, seperti olahraga bersama atau makan malam, rutin di hampir setiap minggu. Bagaimanapun, kenyamanan di tempat kerja tak boleh diremehkan. Apalagi, di industri hukum yang identik dengan jam kerja panjang serta tekanan tinggi.
Sejak kali pertama didirikan pada 2019, SGA telah berkomitmen untuk melepaskan dirinya dari godaan ekspansi besar-besaran. Jesconiah dan Johanes sepakat, melihat pertumbuhan kuantitas advokat yang melonjak pesat dari tahun ke tahun, tantangan industri hukum ke depan bukan lagi sekadar ketersediaan jumlah praktisi, melainkan krisis kepercayaan dan konsistensi mutu.
“Kami ingin membangun institusi yang memiliki reputasi kuat dan berkelanjutan, yang tetap relevan di tengah perkembangan dunia hukum dan bisnis yang semakin kompleks. Kami ingin menjadi firma hukum yang dipercaya karena kualitas, integritas, dan dampak nyata yang kami berikan kepada klien,” pungkas Jesconiah.
Sumber:
https://www.hukumonline.com/berita/a/upaya-siahaan-gea–attorneys-at-law-membangun-reputasi-kuat-dan-berkelanjutan-lt6a6855ca04b46/?page=1
